Categories
Uncategorized

Pemberdayaan TI kota kreatif

Pemberdayaan TI hijau, modal sosial, kreativitas dan inovasi: Studi kasus kota kreatif, pada Pengembangan sektor industri kreatif di Yogyakarta diharapkan dapat menghadapi tantangan Perhimpunan Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara (ASEAN Economic Community) 2015. Yogyakarta memiliki potensi untuk memaksimalkan sektor industri kreatifnya. Dilihat dari potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki untuk mengembangkan sektor tersebut. Meski bisa dikatakan pasokan bahan baku masih relatif terbatas (http://skalanews.com/berita/detail/188813/Industri-Kreatif-DIY-Dinilai-Mampu-Hadapi-MEA). Beberapa UKM kreatif Yogyakarta telah mengadopsi teknologi informasi untuk mengelola bisnis mereka, termasuk penggunaan website, email, telepon, dan fax (Muafi & Roostika, 2014; Muafi, Gusaptono, Effendi & Charibaldi, 2012a; Muafi, Wahyuningsih, Effendi & Sriyono, 2012b ;Muafi, 2012c; Achjari, Abdillah, Suryaningsum & Supratman, 2010). Namun demikian, pemanfaatan teknologi informasi pada UKM di Indonesia khususnya Yogyakarta masih terbatas pada laporan, desain produk, akses internet dan presentasi; sehingga kegiatan strategis belum banyak digunakan (Wahid & Indarti, 2007; Muafi, dkk., 2012a; Muafi & Roostika, 2014; Sarosa,2007). Penelitian menunjukkan bahwa adopsi teknologi informasi di kalangan UKM di Yogyakarta masih terbatas (Muafi, et al., 2012a; Handayaningsih & Pujiono, 2009), terutama dalam penerapan kesadaran Green IT (Mariani & Imam, 2012). Kendala utama dalam penerapan Green IT di Indonesia adalah sumber daya manusia, modal, dan investasi yang tinggi (Yuniarti, 2012; Mariani & Imam, 2012). Itulah kendala bagi pemerintah, perguruan tinggi dan komunitas kreatif khususnya UKM untuk ikut mempersiapkan dan mensosialisasikan pemanfaatan Green IT di masa mendatang. Kesiapan model Green IT telah diamati oleh beberapa peneliti namun mereka masih fokus menggunakan kesiapan green IT dilihat dari aspek sikap, kebijakan, praktik, teknologi, tata kelola (Molla, Cooper, Corbitt & Deng, 2008; Tenhunen, 2011; Mariani & Imam , 2012, Yuniarti, 2012) dan personel TIK (Wadwoba,Wanyembi, Omuterema & Omieno, 2013; Fors & Lennerfors, 2013). Molla dkk. penelitian (2008) menekankan bahwa pemahaman dan pengaruh Green IT adalah bisnis dengan kinerja yang berkelanjutan. Prinsip, praktik, dan nilai-nilai TI Hijau dapat menjadi pilar utama kerangka kerja kesiapan elektronik untuk membantu organisasi mengevaluasi kesiapan mereka untuk mengadopsi TI Hijau. Tanpa persiapan apapun, pendekatan Green IT hanya akan menjadi reaktif dan membuat kebijakan ad-hoc. Tenhunen (2011) meneliti adopsi Green IT di Finlandia dengan menggunakan pengukuran sikap, kantor tanpa kertas, manajemen, dan virtualisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat variabel memiliki pengaruh terhadap adopsi Green IT. Beberapa perusahaan telah memperkenalkan konsep dan kegiatan terkait Green IT. Pemberdayaan TI Tetapi perbaikan mekanis dan kegiatan kantor tanpa kertas yang dilakukan tidak menunjukkan pentingnya alasan lingkungan. Di Indonesia, penelitian Green IT menunjukkan bahwa organisasi yang disurvei tidak memiliki kemampuan kesiapan yang memadai untuk mengimplementasikan Green IT. Green IT sebenarnya diharapkan dapat mendorong penurunan biaya operasional (Mariani & Imam, 2012). Namun, hasil Yuniarti (2012) menyimpulkan bahwa secara umum kelima responden di industri manufaktur memiliki sikap positif meskipun indikatornya mendapatkan perhatian karena sikap negatif responden adalah pada indikator kebijakan dan tata kelola meskipun Wadwoba et al. hasil penelitian (2013) yang membuktikan bahwa personel TI juga penting untuk penerapan Green IT. Demikian juga hasil penelitian dari Fors dan Lennerfors (2013) tentang Aspek SDM yaitu pemilik, organisasi mitra, dan pelanggan perlu dimiliki jika organisasi ingin melakukan audit Green IT. sekaligus menekankan pentingnya pemberdayaan kreatif UKM di Indonesia dalam mengadopsi Green IT dan tidak hanya siap memanfaatkan Green IT. Aspek pemberdayaan dan modal sosial saling terkait satu sama lain dan sangat penting dalam penerapan Green IT, terutama dalam perilaku kreatif dan inovatif (Wahyuningsih, Muafi & Roostika, 2014; ekmecelioğlu & zbağ, 2014; Cekmecelioglu & Gunsel, 2013; Seibert , Wang & Coutright,2011; Mawardi, 2007)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *